Tak Selamanya Paksaan itu Tak Indah

“Paksaan dosen” Keberhasilan Mahasiswa

Mari kita awali dulu tulisan ini dengan salam,,

Assalamualaikum wr.wb.

listen this music before,

\”We Are The Champion\”

Hmm,, sekarang mari kita bahas mengenai “paksaan dosen” ,eits.. jangan berprasangka negatif dulu wahai kawan2 ku yang akan saya paparkan adalah argumentasi yang justru baik, hehe…

Saya sangat menyukai istilah tersebut karena dengannya saya dapat menemukan sesuatu yang saya inginkan dan butuhkan sebelumnya. Jika mendengar kata paksaan apa yang berada di benak kalian???.. hmm.. pasti sesuatu keharusan yang kalau tidak dilakukan akan berdampak buruk bagi kita,, tapi yang saya maksud disini memang itu haha… ok lah kalau begitu mari kita mulai pembahasan kita kali ini dengan contoh real yang saya miliki!! Check it out!

Setelah kuliah 4 semester di salah satu universitas negeri di kota Jogjakarta tepatnya Yogyakarta State University weh malah nggaya<< saya mendapatkan dosen yang selalu “memaksa mahasiswa” untuk melakukan sesuatu tidak hanya dengan benar tetapi juga melakukan sesuatu yang benar dalam konteks pembelajaran. Yakni bu Vinta A. Tiarani. M.Ed dan pak Agus Purwanto, M.Sc kedua dosen ini merupakan dua dosen yang menginspirasi selain dosen2 yang menginspirasi lainnya. Mereka sangat peduli dengan mahasiswa tapi menuangkan dengan cara mereka, nah bagaimana sih caranya??.

Ok yang pertama mulai dari bu Vinta, beliau adalah sosok yang menurut saya dapat menanamkan konsep yang bisa diserap dengan baik karena dalam pembelajaran, kami “di paksa” menggunakan logika berfikir yang logis dalam memahami konsep-konsep sains. Suatu ketika pada waktu presentasi ada mahasiswa yang tidak menguasai materi lalu dimarahi ini berefek untuk presentasi selanjutnya dimana semakin kebelakang semakin baik karena “dipaksa” tadi.

Untuk yang kedua adalah pak Agus Purwanto beliau salah satu dosen dengan lulusan luar negeri yang sangat expert sekali di bidangnya. Saya teringat kata-kata beliau “Saya dulu melakukannya, maka saya memaksa kalian untuk melakukan apa yang saya lakukan” kedengarannya tak mengenakkan tapi sebenarnya tak seburuk itu<<> hehehe.. kebetulan saya bertemu beliau semester 4 ini dalam matakuliah metodologi penelitian, kami disini diajarkan untuk menjadi scientis yang sebenarnya dengan mengadakan penelitian, entah idenya tu seperti apa beliau sangat menghargai ide kami. Dengan bimbingan beliau ide kami yang biasa-biasa saja memberikan pengalaman yang luar biasa dan mampu memunculkan “sense of curiosity ” yang terbukti dengan susah payah kawan2 sekelas untuk melaksanakan penelitiannya mulai dari mengurus surat ijin peminjaman alat yang butuh waktu ber minggu-minggu, penelitian yang gagal, mengenal alat yang akan digunakan, dan pengelaman2 lainya yang tidak kami dapat di semester sebelumnya, pada akhir kuliah beliau tiga hari yang lalu saya masih teringat betul akan “paksaannya untuk kami” efeknya sangat baik sekali sekarang teman2 menjadi lebih kritis dalam menghadapi sesuatu dan mengapa sesuatu itu bisa terjadi, meskipun itu tak semua yang mangalamainya,, tapi setelah melihat teman2, mereka tampak lebih baik dari sebelumnya.

Nah, dari kedua contoh diatas, saya memiliki suatu argument yang mungkin dari kalian banyak yang tidak setuju dengan ini “semakin dosen menuntut mahasiswa untuk berbuat lebih maka mahasiswa itu akan menjadi academia yang sangat luar biasa”

Bagaimana menurut kalian, apakah contoh diatas mampu kalian serap makna implicit yang terkandung didalamnya, hmmM….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s