Temulawak Sebagai Obat Kolesterol dan Pembudidayaannya

TEMULAWAK SEBAGAI OBAT KOLESTEROL

DAN CARA BUDIDAYANYA

Disusun Oleh:

Muhammad Izzatul Faqih

 

BAB I Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keragaman hayati, diantaranya adalah biofarmaka yang sangat bermanfaat dalam aspek medis (kesehatan) baik langsung maupun tidak langsung. Banyak sekali tanaman biofarmaka yang dimanfaatkan oleh masyarakat indonesia yang salah satunya adalah temu lawak. Temu lawak merupakan salah satu tanaman biofarmaka yang memiliki banyak manfaat untuk manusia. Manfaat yang dimiliki oleh temu lawak sangatlah beragam mulai dari obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker dan manfaat yang lain. Dengan manfaat ini maka sudah selayaknya jika kita membudidayakan tanaman ini dengan mengacu pada manfaat yang sudah di sebutkan tadi. Oleh karena itu, maka penulis merasa perlu untuk memaparkan dan menjelaskan dalam makalah ini tidak hanya mengenai apa itu biofarmaka dan manfaatnya (khususnya temu lawak) akan tetapi juga perlu disampaikan bagaimana cara membudidayakannya dengan baik dan benar sehingga kita semua mampu mengembangkan dan dapat mengambil manfaat yang lebih banyak lagi.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana deskripsi tentang temu lawak?
  3. Bagaimana temu lawak dijadikan tanaman biofarmaka?
  4. Bagaimana cara pembudidayaan temu lawak sebagai tanaman biofarmaka?
  5. Tujuan Penulisan
  6. Mengetahui deskrisi tentang temu lawak.
  7. Mengetahui temu lawak sebagai tanaman biofarmaka.
  8. Pembudidayaan temu lawak sebagai tanaman biofarmaka.

BAB II PEMBAHASAN

  1. Deskripsi tentang Temu lawak
  2. Klasifikasi

Sesuai dengan Prasko (2011) klasifikasi temulawak dapat dilihat dibawah ini:

Kingdom           : Plantae

Divisi                 : Spermathophyta

Subdivisi           : Angiospermae

Kelas                 : Monocotyledoneae

Bangsa               : Scitamineae

Famili                : Zingiberaceae

Marga                : Curcuma

Spesies  : Curcuma xanthorhiza roxb

  1. Gambaran Umum Tumbuhan

Gambaran umum tentang temulawak menurut Vavilov (2010) ialah tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m tetapi kurang dari 2 m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84 cm dan lebar 10 – 18 cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80 cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 – 23cm dan lebar 4 – 6 cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2 cm dan lebar 1cm.

Sesuai dengan Evi Afifah (2003) komponen pati dari temulawak mengandung zat sebagai berikut:

Tabel 1. Komponen Pati Temulawak

Komponen Besaran
Abu 0,37%
Protein 1,52%
Lemak 1,35%
Serat kasar 0,80%
Karbohidrat 79,96%
Kurkumin 15 ppm
K 11,45 ppm
Na 6,38 ppm
Ca 19,07 ppm
Mg 12,72 ppm
Fe 6,68 ppm
Mn 0,82 ppm
Cd 0,02 ppm
  1. Syarat Pertumbuhan

Sesuai dengan Hieronymus budi santoso (1998,88) syarat pertumbuhan tanaman temulawak adalah sebagai berikut:

a) Iklim

1. Ketinggian tempat: 100 m- 750 m diatas permukaan air laut.

2. Curah hujan tahunan: 1000-4000 mm/tahun

3. Bulan basah (diatas 100mm/bulan): 7 bulan-9 bulan

4. Bulan kering (diatas 60mm/bulan) : 3 bulan

5. Suhu udara 180– 300C

6. Kelembaban: sedang

7. Penyinaran: tinggi.

b) Tanah

1. Jenis: latosol, andosol.

2. Tekstur: liat

3. Drainase: baik

4. Kedalaman air tanah: diatas 25 cm dari permukaan tanah,

5. Kedalaman perakaran: 10-25 cm dari permukaan tanah.

6. Keasaman (pH): 6-7.

  1. Temulawak Sebagai Tanaman Biofarmaka

Dengan banyaknya manfaat dari temulawak dan melimpahnya tanaman tersebut, maka temulawak dijadikan sebagai biofarmaka. Penerapan temulawak dalam biofarmaka tersebut salah satunya adalah untuk menurunkan kadar kolesterol, karena kolesterol yang tinggi dapat memicu terjadinya aterosklerosis atau yang sering dikenal penyempitan pembuluh darah. Untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat temulawak dalam mengatasi kadar kolesterol yang tinggi ini maka perlu kiranya kita membahas dahulu tentang apa yang dimaksud dengan kolesterol dan bagaimana kadar kolesterol yang tinggi bisa menyebabkan penyakit jantung dan stroke.

Sesuai dengan Ikhwan Ashadi (2008) Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. kolesterol merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Tetapi bila kolesterol dalam tubuh berlebih akan tertimbun didalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke.

Lebih lanjut dijelaskan proses bagaimana kolesterol menyumbat pembuluh darah. Kolesterol yang berlebihan dalam darah akan mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah. Selanjutnya, LDL akan menembus dinding pembuluh darah melalui lapisan sel endotel, masuk ke lapisan dinding pembuluh darah yang lebih dalam yaitu intima. Makin kecil ukuran LDL atau makin tinggi kepadatannya makin mudah pula LDL tersebut menyusup ke dalam intima. LDL demikian disebut LDL kecil padat. LDL yang telah menyusup ke dalam intima akan mengalami oksidasi tahap pertama sehingga terbentuk LDL yang teroksidasi. LDL-teroksidasi akan memacu terbentuknya zat yang dpat melekatkan dan menarik monosit (salah satu jenis sel darah putih) menembus lapisan endotel dan masuk ke dalam intim disamping itu LDL-teroksidasi juga menghasilkan zat yang dapat mengubah monosit yang telah masuk ke dalam intima menjadi makrofag. Sementara itu LDL-teroksidasi akan mengalami oksidasi tahap kedua menjadi LDL yang teroksidasi sempurna yang dapat mengubah makrofag menjadi sel busa. Sel busa yang terbentuk akan saling berikatan membentuk gumpalan yang makin lama makin besar sehingga membentuk benjolan yang mengakibatkan penyempitan lumen pembuluh darah. Keadaan ini akan semakin memburuk karena LDL akan teroksidasi sempurna juga merangsang sel-sel otot pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam (media) untuk masuk ke lapisan intima dan kemudian akan membelah-belah diri sehingga jumlahnya semakin banyak, sehingga terjadilah penyempitan pembuluh darah yang memicu penyakit jantung dan stroke.

Setelah mengetahui bagaimana proses penyempitan pembuluh darah akibat tingginya kolesterol tadi maka selanjutnya kita akan membahas bagaimana memanfaatka temulawak sebagai tanaman biofarmaka yang dapat digunakan sebagai obat alami untuk mengatasi masalah kolesterol.

Seperti yang dikutip dari Nigella Sativa (2009) Menurut seorang guru besar Universitas Padjajaran (UNPAD), berdasar hasil penelitian, ekstrak temulawak sangat manjur dan juga sudah terbukti bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan sel hati. Khasiat itu adalah berkat adanya kandungan kurkumin, yakni zat yang berguna untuk menjaga dan menyehatkan hati atau lever atau istilah medisnya hepatoprotektor. Sebab komposisi kimia dari rimpang temulawak adalah protein pati sebesar 29-30 persen, kurkumin satu sampai dua persen dan minyak atsirinya antara 6 hingga 10 persen.

Sesuai dengan paparan diatas prinsip utamanya ialah Curcumin berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL dengan cara meningkatkan aliran asam empedu /cairan empedu dari hati. Asam empedu ini diproduksi di hati dan berfungsi dalam membantu proses penyerapan di saluran cerna (lambung). Cairan Empedu berisi air, garam-garam empedu, zat warna empedu, kolesterol dan lemak. Dengan meningkatnya produksi dan pengeluaran cairan empedu, hal ini juga akan meningkatkan pengeluaran dari kolesterol dan lemak. Sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol berlebih dalam tubuh.  (www.helmigscurcumin.com/artikel-3.html)

  1. Budidaya Temulawak

Sesuai dengan Rahmat Rukmana (1995:12) Temulawak secara historis mempunyai kegunaan tradisional dan sosial cukup luas dikalangan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, banyak kalangan yang mempromosikan temulawak sebagai tanaman obat khas Indonesia.

Selama ini upaya mendapatkan produksi temulawak dilakukan dengan cara pertama, adalah melalui pengumpulan (pemburuan dan penebangan) tumbuhan secara alami (liar) di hutan-hutan, kebun, tegalan, pematang pematang, dan lain-lain. Kedua, melalui penanaman (pembudidayaan) secara kecil-kecilan di tegalan, hutan dan pekarangan-pekarangan. Bentuk kultur teknik demikian akan menyulitkan dalam upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi rimpang temulawak padahal potensi tanaman itu dapat diandalkan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa masalah (kendala) yang dihadapi dalam pembudidayaan tanaman obat, khususnya tanaman temulawak adalah masih terbatasnya paket teknologi (kultur teknik) budidaya yang dianjurkan untuk para petani. Sekalipun paket teknologi tersebut sudah dihasilkan para pakar (peneliti), namun belum sampai pada tingkat petani, sehingga rata-rata produksi yang diperoleh rendah dan pemasarannya tidak menentu. Oleh karena itu, dalam upaya memasyarakatkan dan menggalakkan budidaya temulawak perlu adanya prioritas yang berorientasi kepada kepentingan petani atau perkembangan tingkat ekonomi dan jumlah kebutuhan pasar.

Dilain pihak, pengembangan budidaya temulawak selain merupakan upaya pelestarian sumber daya plasma nutfah tanaman obat, juga berfungsi sosial untuk lapangan kerja dan menunjang peningkatan industri pedesaan. Komoditas ini memberikan peluang cukup tinggi dalam kapasitas serapnya baik disektor formal (industri jamu) baik sector informal (jamu gendong, pedagang simplisia, petani pembudidaya dan pengumpul simplisia dari hutan).

Sesuai dengan Vavilov (2010) untuk pedoman pembudidayaan tanaman temulawak dapat dilihat seperti yang tertera dibawah ini:

  1. Pedoman Budidaya

a)   Pembibitan

Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang). Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000 kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha.

1)  Persyaratan Bibit

Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 -12 bulan.

2)  Penyiapan Bibit

Tanaman induk dibongkar dan bersihkan akar dan tanah yang menempel pada rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.

  1. Bibit rimpang induk

Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut. Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam.

  1. Bibit rimpang anak

Simpan rimpang anak yang baru diambil di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru. Penyiapan bibit dapat pula dilakukan dengan menimbun rimpang di dalam tanah pada tempat teduh, meyiraminya dengan air bersih setiap pagi/sore hari sampai.keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam. Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan. Sebaiknya bibit disiapkan sesaat sebelum tanam agar mutu bibit tidak berkurang akibat penyimpanan.

b)   Pengolahan Media Tanam

1)   Persiapan Lahan

Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun temulawak sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam.

2)   Pembukaan Lahan

Lahan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan kunyit. Lahan dicangkul sedalam 30 cm sampai tanah menjadi gembur.

3)    Pembentukan Bedengan

Lahan dibuat bedengan selebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm. Selain dalam bentuk bedengan, lahan dapat juga dibentuk menjadi petakan-petakan agak luas yang dikelilingi parit pemasukkan dan pembuangan air, khususnya jika temulawak akan ditanam di musim hujan.

4)   Pemupukan Organik (sebelum tanam)

Pupuk kandang matang dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2 kg. Keperluan pupuk kandang untuk satu hektar kebun adalah 20-25 ton karena pada satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman.

c)   Teknik Penanaman

1)   Penentuan Pola Tanaman

Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada awal musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu. Fase awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan banyak air.

2)   Pembutan Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.

3) Cara Penanaman

Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm.

4) Perioda Tanam

Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen musim kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini memungkinkan untuk suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya.

d)  Pemeliharaan Tanaman

1)    Penyulaman

Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan bibit cadangan.

2)    Penyiangan

Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan dan air. Peyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan

bantuan kored/cangkul dengan hati-hati.

3)    Pembubunan

Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpang-rimpangan untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembubunan dilakukan dengan menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air. Pembubunan dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan.

4)    Pemupukan

  1. Pemupukan Organik

Pada pertanian organic yang tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organic yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organic atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

  1. Pemupukan Konvensional

1)   Pemupukan Awal

Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah pemupukan tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.

2)   Pemupukan Susulan

Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan merata di dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan tanah.

e)   Pengairan dan Penyiraman

Pengairan dilakukan secara rutin pada pagi/sore hari ketika tanaman masih berada pada masa pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya ditentukan oleh kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih banyak dilakukan pada musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.

a)     

b)     

c)     

d)     

e)     

f)    Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama dan penyakit.

g)   Pemulsaan

Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.

  1. Panen
    1. Ciri dan Umur Panen

Rimpang dipanen dari tanaman yang telah berumur 9-10 bulan. Tanaman yang siap panen memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning kecoklatan.

  1. Cara Panen

Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan rimpangnya.

  1. Periode Panen

Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman yaitu pada musim kemarau. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada

musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya

  1. Paska panen
    1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadahplastik/ember

  1. Perajangan

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

  1. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 – 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari.dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 o C – 60 o C. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan.

  1. Penyortiran Kering

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

  1. Pengemasan

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

  1. Penyimpanan

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 o C dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

Setelah mengetahui banyaknya manfaat temulawak dan sudah di uji secara klinis, maka sebaiknya kita membudidayakan temulawak sehingga kita dapat mengambil manfaatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. www.helmigscurcumin.com/artikel-3.html

Ashadi Ikhwan. 2008. Penyakit Strokehttp://ilmugiziindonesia.wordpress.com/category/kolesterol/

Diakses pada pukul 20:29 Hari Kamis 19 September 2011

Afifah, Evi. 2003. Khasiat dan manfa’at temulawak rimpang penyembuh aneka penyakit. Agromedia pustaka

Prasko. 2011. Klasifikasi Kandungan dan Manfaat. http://zona-prasko.blogspot.com/2011/08/klasifikasi-kandungan-dan-manfaat.html

Diakses pada pukul 20:29 Hari Kamis 19 September 2011

Rukmana, Rahmat. 1995. Temulawak: Tanaman Rempah dan Obat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Santoso, Hieronymus Budi. 1998. Toga2 Tanaman Obat Keluarga. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Sativa, Nigella. 2009. Khasiat Temulawak. http://obatkolesterolherbal.blogspot.com/2009/09/khasiat temulawak.html

Diakses pada pukul 03:33 Hari Sabtu 12 November 2011

Vavilov. 2010. Budidaya Herba Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.). vavilovnursery.multiply.com/journal/item/19/Budidaya_Herba_T

Diakses pada pukul 21:51 Hari Sabtu 20 September 2011

 

One thought on “Temulawak Sebagai Obat Kolesterol dan Pembudidayaannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s